APA YANG DIMAKSUD TRAUMA ITU? (TERKAIT BENCANA GEMPA LOMBOK)
Beberapa hari ini berseliweran tulisan tentang trauma healing. Baik itu di tulis di status FB ataupun menjadi topik perbincangan di grup WhatsApp.
Banyak yang bertanya, apa sih Trauma itu?
Apakah Trauma itu bisa disembuhkan?
Apakah korban bencana di Lombok butuh penanganan Trauma?
Apakah korban di sana pasti mengalami Trauma?
Bagaimana melakukan Trauma Healing itu?
Kira-kira begitulah pertanyaan yang sering saya dengar..
Okey, kita mulai dengan definisi trauma itu sendiri dulu ya...
Trauma adalah suatu kondisi kerusakan, akibat terjadinya peristiwa yang membuat stress. Karena seseorang tidak mampu mengatasi tekanan yang begitu besar, maka terjadilah suatu kerusakan didalam psikisnya. Biasanya peristiwa yang membuat seseorang mengalami trauma adalah persitiwa yang membahayakan hidupnya.
Saat seseorang terpapar persitiwa traumatik, setiap orang mengalami masa krisis. Apa itu masa krisis? masa dimana seseorang mengalami goncangan batin yang amat sangat, sehingga terjadi ketidakstabilan pikiran dan emosinya. Bentuknya bisa berupa marah, menangis, kesedihan yang mendalam (grief) dan bentuk emosional lainnya. Ada pula orang yang selama masa krisis ini hanya diam saja tidak bicara. Setiap orang memiliki bentuk perilaku berbeda-beda saat masa krisis ini.
Masa krisis ini biasanya terjadi hingga 2 minggu. Dan reaksi seseorang saat masa krisis ini akan menentukan apakah peristiwa traumatik ini akan membuat ia lebih dewasa (karena memaknai dengan positif) ataukah malah menjadi suatu bentuk gangguan psikis?
Penanganan yang tepat selama masa krisis ini akan membawa dampak yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan tidak mendapat penanganan. Namun begitu penanganan di masa krisis ini bukanlah dengan trauma heailng, karena mereka belum berada pada fase "trauma" (lengkapnya akan saya jelaskan dibawah). Penanganan yang tepat bagi mereka adalah dengan di cukupinya kebutuhan fisik (makanan, tempat dll) serta kebutuhan emosi (rasa aman, kenyamanan, dll).
Seperti yang kita bahas tadi, bahwa reaksi tiap orang dalam masa krisis ini berbeda-beda. Dan tiap reaksi akan menimbulkan gejala yang berbeda pula.
Ada yang diam saja, menarik diri (represi, withdrawl, undoing, give up) - jika ini dilanjutkan bisa menjadi depresi
Ada yang melakukan "change reality", menyangkal kenyataan (denial) dan melakukan fantasi - jika ini dilanjutkan akan menjadi psikosis (bahasa awamnya adalah gila)
Ada yang melakukan penghindaran (avoidance) pada objek yang ditakuti - jika ini dilanjutkan akan terjadi phobia
Ada yang mencoba mengobati krisisnya ini dengan penyalahgunaan zat - jika ini dilanjutkan akan menjadi "kecanduan zat"
Ada juga yang melakukan penundaan ingatan (suspend experience disociation) - jika ini dilanjutkan akan menyebabkan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) atau biasa kita sebut TRAUMA.
PTSD Inilah sebenarnya istilah awamnya "trauma". Bentuknya adalah sebagai berikut :
1. Mengalami kembali (seolah-olah) peristiwa traumatik itu, 2. Terjadi penghindaran segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa traumatik, 3. Mengalami Hyperarousal, seperti mudah marah, tidak bisa tidur, mimpi buruk dan lainnya...
Untuk memenuhi diagnosa PTSD adalah minimal 1 bulan gejala diatas tersebut menetap. Jika belum 1 bulan maka itu masih dianggap "masa krisis". Dan ingat! Masa krisis ini adalah sesuatu yang "manusiawi" atau normal adanya.
Meski begitu, ada yang namanya ASD atau Acute Stress Disorder. Gejalanya sama persis dengan PTSD, namun ia lebih akut, lebih "heboh" reaksinya bahkan terkadang disertai Brief Psikotik (kegilaan sesaat). Namun gejala ini tidak lebih dari 3 minggu, kemudian berangsur-angsur hilang.
Menjawab pertanyaan : "Apakah setiap orang yang mengalami bencana Alam mengalami trauma?"
Saya rasa iya! jika trauma itu diartikan sebagai luka psikologis. Namun jika trauma itu diartikan sebagai gejala PTSD maka jawabannya "belum tentu".
Apakah setiap orang korban bencana yang menangis, bersedih teramat sangat, marah, ngamuk dan reaksi emosional lainnya itu bisa dikatakan mengalami trauma? jika kita merujuk keterangan diatas, jika mereka memenuhi 3 gejala diatas (mengalami kembali, penghindaran, hyperarousal), maka jawabannya adalah "IYA". Jika setelah 3 minggu mereda namanya "STRESS AKUT" atau ASD, jika sampai 1 bulan namanya "STRESS PASCA TRAUMA" atau PTSD.
Menjawab pertanyaan : "Lalu bagaimana cara mengatasi trauma?"
Untuk membantu mengatasi gejala trauma, dibutuhkan pengetahuan traumatologi yang mendalam, serta kemampuan trauma healing yang mumpuni. Yang saya maskud trauma healing disini, tentu saja berbeda dengan trauma healing yang dilakukan oleh motivator di panggung. Trauma healing yang saya maksud adalah suatu intervensi yang dirancang setelah dilakukan asesmen atau penilaian secara psikologis terhadap orang yang bersangkutan. Caranya bisa bermacam-macam, yaitu dengan Cognitive Behavior Therapy, EMDR, Exposure therapy, Group Therapy dan lain-lain.
Semoga sampai disini bisa dipahami ya..
Jika kurang paham, bisa dibaca ulang pelan-pelan, dan bisa di diskusikan...
Regard,
Danang Baskoro, M.Psi., Psikolog
Read more »
0 komentar:
Post a Comment