Sarjana merupakan pencapiaan tertinggi sebagai siswa dan mungkin pencapai tertinggi sebahagiaan besar manusia , dengan menyandang gelar sarjana maka di harapan akan lebIh mudah mengarungi kehidupan ini menjadi mandiri mendapatkan pekerjaan ,
Fakta yg ada selam ini Orang tua , guru, dosen, masyarakat selalu menuntut kita dalam menumpuh sekolah memiliki nilai akademis yang tinggi , pelajar yg mendapakan nilai tinggi selalu dianggap pintar dan lebih diatas pelajar lainya mempuyai masa depan yg cerah , begitu pula dengan sebaliknya pelajar yg mendapatkan nilai standar dan dibawah seringkali dicap oleh orang orang yg memiliki otoritas seperti orang tua, guru bahwa mereka tidak mempunyai masa depan secermerlang pelajar yg mendapakat nilai bagus .”
Jika pelajar mendapatkan nilai yg tidak sesuai dengan harapan maka pihak Otoritas dengan enteng nya meng jude ...”ya... mao jadi apa kamu dengan nilai segini ?? , kamu anak bodoh , kamu anak malas ..dsb
Untuk menjawab tudingan tsb maka kita akan bertanya “apakah nilai tinggi dalam menjamin keberhasilan dalam hidup ?? Untuk menjawab pertanyaan tsb tentunya kita harus mengajukan pertanyaan lagi agar makna dari keberhasilan tsb kita sepakati bersama .
Apakah keberhasilan dalam akademik ?
Atau keberhasilan dalam universitas kehidupan ?
Untuk menjawab pertanyaan tsb mari kita renungi pepatah ini
“bukan hal baru yg saya takuti namun hal lama yg saya anggap benar ternyata salah ,
Dizaman agraria sekolah meliburkan anak anak di musim panas dengan tujuan agar anak anak dapat membantu orangtuanya di sawah , dan diladang untuk mencukupi kebutuhan keluarga dari sesi ekonomi , setelah era agraria mulai dipinggirkan muncul era industri pabrik pabrik dimana mana sehingga lowongan kerja terbuka leber dan diera ini industri membutuhkan karyawan dalam jumlah besar , perusahan tentunya ingin memilih karyawan karyawan yg berkualitas, cakap dan terampil , cara yg termudah tentunya dengan melihat nilai nilai akademis , semakin tinggi nilai seseorang berarti akan lebih berpeluang besar masuk dan diterima perusahaan .dan sebaliknya nilai nilai akademi yg tidak sesuai dengan kehendak perusahan otomatis ditolak dan tereleminasi dengan sendirinya di proses awal .
Era industri mulai bertrasnformasi ke era informasi atau era dunia terkoneksi menjadi satu , informasi dan teknologi siapaupun yg lebih cepat mendapkannya yg akan menguasi pasar tanpa melihat sisi akademis ,intelektualitas , diera ini fakta yg ada diera industri mulai terbantahkan orang orang yg tidak bersekolah ataupun mendapat nilai rendah ataupun bermasalah dengan sekolah ternyata mampu berhasil hidup . sebut saya Bill gate ,Adam Malik,Abdullah Gymnastiar(AA gim),Andrie Wongso,Buya Hamka,Hendy setiono(kebab turki) Ajib rosid , Puri E Chandra ,Andy F Noya, alm Om Bob dan masih banyak lagi , mereka adalah orang orang yg mampu bekerja keras , cerdas ,fokus keahliaan mampu menangkap peluang,menjaga hubungan baik , networking yg bagus , mempunyai energi Positif ya tanpa ijazah apalagi Nilai Tinggi .jika kita membaca buku buku mereka , berbicara dengan mereka jelas sekali pemikiran mereka berbeda dengan kebanyakan orang
Maka terjawab sudah pertanyaan kita,orang yg mempunyai otoritas tinggi seperti orang tua , guru dosen yg selalu menuntut nilai tinggi ,mereka sebenarnya terjebak dipemikiran masa atau era industri , sedangkan zaman telah berubah , ya Telah berubah . “Change you Mind ,Change you world”
School is”not Job
Sekolah tidak sama dengan pekerjaan itulah fakta sekarang , tuntutan dan kehendak zaman yg berbuat seperti itu , ada sarjana elektro jadi agen asuransi , ada sarja hukum saja agen properti , ada teknik sipil jadi guru, sarjana akuntansi jadi pedagang /pengusaha yg miris sarjana bekerja dilevel pendidikan SMA hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup , semuanya serba mungkin dizaman sekarang , poinnya apapun pekerjaan dituntut untuk menerimanya ,hidup mandiri adalah tujuaan yg harus dicapai apapun pekerjaannya , menghasilkan uang ,ya uang ,katanya uang no 1 eh salah no 2 , setelah oksigen tanpa oksigen kita pasti mati dan kalau tanpa uang rasanya mau mati ,hehehehe
Seperti penjabaran diatas bengitu banyaknya sarjana yg bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terpaksa bekerja di bidang lainnya yg tidak sesuai dengan keilmuan , sehingga alm Bob Sadino pernah berkata “untuk apa sekolah ,? Ya persepsi yg dibangun om Bob tentunya tidak salah dan keliru , dia mampu membuktikan program pikiranya bahwa sekolah ternyata bukan satu satunya faktor penentu keberhasilan hidup seseorang , kita tidak perlu tahu banyak hal , berbicara banyak hal , sehingga tidak fokus dan akhirnya tidak profesional dan akhirnya dibayar dengan rendah,keahliaan lah yg dibayar mahal . saya pun akhirnya menyadari hal itu diusia yg cukup matang , seorang BJ Habibie saking fokusnya ke minatdan bakat serta pekerjaan beliau, beliau pun tidak tahu siapa itu Roma Irama sang Raja dangdut yg melengenda . ya ternyata kita tidak perlu tahu banyak hal supaya kita sukses .
IQ( Intellegence Qouitient) ,EQ (Emosional Quientent) ,SQ (Spritual Qouient)
Dulu orang beranggapan bahwa IQ lah satu satunya penentu suksesnya hidup seseorang , namun hal itu mulai tergeser , EQ lebih dianggap lebih menentukan , namun ternyata hal itupun disaat ini pun orang mulai menyadari SQ yg paling menentukan dan mendapat nilai tertinggi , disaat orang mempunya SQ tinggi maka awarnessnya lah membimbing kita dalam mengarungi Universitas kehidupan dengan baik dan sukses , jika seseorang yg kita anggap bahwa SQ tinggi namun hidupnya masih ingin berkelimpahan (kaya)namun fakta beliau masih miskin dan kekurangan hal ini pertanda adanya vibrasi yg salah dalam memaknai Awarness dlam diri orang tsb , Pada level ini seharusnya orang orang yg ber SQ tinggi hidup hal kemiskin(kekurangan finansial ) adalah karena pilihan dan keyakinan hidup mereka . liahat lah Nabi Muhammad SAW, Ali bin abi thalib,Mother Theresa, serta para sufi/ guru besar lainya .atau disisi kaya nya ada Nabi sulaiman AS , Ibrahim , Usman Bin Affan ra , Abu bakar Ra , Abdurahman bin auf , dan masih banyak tokoh lainnya .
Untuk mencapai proses menuju sempurna dalam universitas kehidupan ,proses belajar tidak boleh berhenti sampai selepas sarjana , malas membaca buku , malas meng update diri ,merasa pintar dan hebat adalah bencana besar yg dialami oleh sarjana sarjana sehinggga banyak yg gagal,depresi stress dalam kehidupan ini disamping bekerja tanpa passioon pun membawa kita terjebak dalam keputus asaan yg tidak terceritakan , realita kehidupan kadang kala hanya mampu diselesai kan bukan semata dari intelekualitas namun kadang dari faktor pengendaliaan emosi dan spritualis yg kita bangun yg terupdate lah yg membawa kebahagiaan dan kesukses dalam belajar di Universitas kehidupan
Tak ada jalan lain “jadilah pembelajar seumur hidup “أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” (HR. Bukhori)
Semoga bermanfaat
(pencariaan Jiwa)
0 komentar:
Post a Comment